September82011

Incomprehensible

Incomprehensible

Tik tok tik tok

Jarum penunjuk detik pada jam dinding itu terus berputar seakan tak kenal lelah. Sepi ya, aku sampai bisa mendengar detak suara jarum jam itu. Ah, sama saja, batinku juga sepi.

You’ll never understand love. Love understands you.

— Oka

Aku merasa jantungku berhenti sepersekian mili detik ketika membaca quote itu. Love ? Kenapa harus itu lagi sih ?

Sedang jatuh cinta kah aku ? Yang pasti saat ini aku rindu. Paru-paruku merindukan gelembung-gelembung oksigen yang datang merasuk. Aku tercekik oleh rinduku sendiri. Logika ku berontak, ia terbakar oleh setiap pikir tentangmu. Sirkulasi darahku ada yang tak beres, setiap mililiter darah yang mengalir sudah terkontaminasi senyawa “kamu”.

I’ll never understand love. Yes, I also will never understand why love chose him.

Aku tak pernah merasa sadar memilih kamu. Segitu besarnyakah pegaruh bawah sadarku ? Atau aku lupa pernah memilih kamu ?

I’ll never understand love.

Kenapa kedua bola matamu itu tertata rapi sejajar begitu elok untuk membuatku terpaku ? Kenapa sinarnya mampu membutakanku ? Kenapa lengkungan diantara kedua pipimu itu sanggup membuatku salah tingkah ? Kenapa setiap kata yang keluar dari bibirmu bekerja seperti mantera sihir padaku ?

I’ll never understand love.

Kamu, yang notabene.. Punya garis wajah yang paling indah, bagiku. Punya senyum bak malaikat, bagiku. Punya suara tawa paling menenangkan, bagiku. Punya aura paling menyejukan, bagiku. Kamu sempurna.. Bagiku.

Pantaskah aku bertanya sekarang “mengapa harus dirimu?”

I’ll never understand love.

Love understands me.

Dia mengerti mengapa harus kamu. Dia mengerti mengapa semua aspek dari kamu mampu membuatku tertegun, terpesona, tersihir. Dia mengerti mengapa kamu…

Karena kamu, yang pantas…

Bagaikan sebuah reaksi kimia, aku jatuh cinta padamu; dan rindu ini adalah katalisnya.

August, 9th 2011

1AM

Pointless

Sudah jam berapa sekarang, melihat ke jam dinding agak terkejut juga. Sebabnya dari tadi aku masih terpaku pada layar komputer portabelku ini, masih bersenda gurau, tersenyum sampai tertawa sendiri. Sejenak aku melupakan tugas utamaku yang seharusnya aku kerjakan sedari siang tadi. Aku agak kurang tertarik untuk membuka lembar demi lembar catatan yang harus kujadikan santapan tengah malamku, aku lebih tertarik membuka halaman demi halaman dunia maya ini, mengeja kata demi kata, dan memahami setiap kalimatnya.

Malam ini, aku agak sedikit tersentil oleh beberapa cerita temanku. Mulai dari pertanyaan “percayakah engkau akan karma?” sampai kepada pernyataan “ignorance is bliss”. Malam ini penuh cerita, ya bagiku.

Lagi, aku diminta untuk mengerti bahwa manusia itu beragam.

Lagi, aku diminta untuk belajar lebih lagi tentang mahkluk sosial ini.

Aku terhipnotis ketenangan sang pleghmatis.

Aku ikut terhanyut dalam kesedihan sang melankolis.

Aku tersihir oleh kata-kata sang koleris.

Siang tadi, langit menghitam. Sore barusan, langit menangis. Malam ini, udara dingin menghantui. Dinginnya merasuk kedalam sum-sum tulangku, memperlambat kerja jantungku, menghambat aliran darahku, tetapi ia berhasil menstimulasi saraf otakku. Aku dipaksa berpikir sekarang.

Alunan musik yang sementara terus mengalun lewat kedua earphone yang aku kenakan, agak membuat tubuhku merinding. Setiap lagu itu punya arti, setiap kata yang terkandung dalam lirik, punya makna.

Aku seorang sanguin yang sedang memasuki fase melankolis.

1AM

Insecurity

Finally, for the very first time, we fight

and for sure, I can’t sleep right now. my eyes won’t close. my brain won’t stop talking to it self. talking about how can I fix this problem, how can I see your smile, how can I hear your laugh again. everything just made me more in sorrow.

I don’t know what just happened between us. and me myself, doesn’t even remember why we fight, what is the exact reason. 

okay… i’m over reacted

sorry

June, 6th 2011

1AM

Unspoken Words

Malam ini, tak ada siapapun di sekitar

Hanya aku, komputer portabel ini, dan alunan nada lembut lagu cinta

Kelam, gelap, sunyi, suram

Kira-kira begitu gambaran suasana disini, detik ini

Uh maksudku itu gambaran perasaanku

Suasana kamarku sih terang benderang, kontras dengan suasana hatiku

Untuk pertama kalinya, aku mau menceritakan apa yang sekian lama ku pendam

Memendam perasaan itu egois katanya

Baiklah kalau begitu, aku bagikan saja kepada kamu saat ini

Sebenarnya, aku sendiri masih kurang paham

Dia..

Dia..

Dia..

Siapa dia ?

Oh ya aku belum memperkenalkan siapa dia ya ?

Mungkin tak ada hal spesifik yang spesial dari si dia itu

Biasa saja, standar, layaknya makhluk hidup penghuni bumi

Tapi bagiku, dia sedikit lebih manis

Goresan matanya, senyumnya

Pasti Tuhan sedang bahagia saat menciptakan dia

Dia mirip seperti noktah emas kunang-kunang

yang berlarian diantara pucuk ilalang di halaman belakang rumahku

Dia juga seperti rumput-rumput yang menari ditiup semilir angin

yang bergoyang begitu indahnya, berdiri begitu kokohnya menghadap sang surya

Seperti titik-titik hujan yang menari lentik seiring pacuan jantungku

selagi aku berjalan menyusuri kerikil-kerikil yang penuh perih diantara kelamnya malam

Seperti deburan ombak di pinggir pantai yang berlarian seakan berlomba

untuk membasahi putihnya setiap butiran pasir disana

Dia itu indah..

Dia muncul layaknya matahari terbit di ufuk timur

Seperti kuncup bunga yang mulai bermekaran menyambut musim semi

Seperti rintik gerimis hujan, yang mengakhiri badai kelam

Aku dapatkan ketenangan sempurna, kenyamanan yang tiada dua

Tapi aku juga mendapatkan kegelisahan yang panjang, dan kenangan yang pahit

Bagimu..

Aku tak ubahnya secarik kertas usang

Penuh goresan tinta hitam yang akan pergi begitu saja

Ditiup angin, terbang hilang dalam sekejap

Terhapus jejak-jejak langkah hujan

Malam jadi bertambah sunyi

Menjadi lebih dingin dari sebelumnya

Maaf, aku tak bisa menyelesaikan puisi ini dengan barisan kata indah

Yang mungkin bisa meluluhkan hati dia

Betapa inginnya aku dimiliki dia

Inginnya aku didekap dia

Inginnya aku dia lindungi

Seperti dia melindungi sang idaman hatinya

Aku tak bisa terus berada disana

Berdiri dengan harapan yang tak mungkin dikabulkan

Logikaku selalu berseru untuk berlari pergi menjauh

Tapi nyatanya, aku masih saja melukis indah imajinasi tentang dia

Merajut bait-bait puisi tentang dia

Sejenak, aku merasa aku tau apa yang harus kulakukan sekarang

Benar-benar berlari meninggalkan tempat itu

Merobek segala imaji tentang dia

Membakar hangus segala rajutan puisi tentang dia

Dan..

Aku pergi

May, 14th 2011

September52011
← Older entries Page 1 of 174